Puisi Wahyu Hidayat yang masuk 5 nominasi puisi terpilih untuk dibacakan di Universitas Teuku Umar, Acah Barat
DARI RAHIM TJUT MOHANI,
TERDAPAT CINTA YANG SANI
—Teuku
Umar
1.
pada
dinginnya waktu, serambat cinta menjelma sekuncup bunga padma
yang
mengusir setiap koridor sepi dan napas benci.
dari
rahim Tjut Mohani yang nyaris kuntum, kita dapati setumbuh cium
yang
menciptakan perlawanan.
bermula
pada janturan di Aceh yang meletus perang, seorang pemuda
serupa
bona memilih hengkang dan gegas pulang. memilih mati muda,
ketimbang
mati sia-sia. lantas setiap musuh dipelintir dan
dibikin
bau anyir. --pun ia ingin jadi baka meski hati terlampau papa--
Umar
melihat bayang-bayang peperangan dari kejauhan;
Umar
melihat bayang-bayang keyakinan di dalam hatinya sendiri.
dan
sebagai Keuchik Gampong, ia mesti jadi tiang listrik dan kaya akan
taktik
:
sesekali mengabdi, lalu musuh dilucuti.
selepas
itu, segalanya serupa nyala api:
1.
alangkah
ngeri perang, tajam mata memandang
2.
alangkah
tuli malam, wajah-wajah gentayangan
3.
pembunuhan
selalu sadis, seperti serigala
/makan
dan minum darah/
2.
bersama
pasukan yang siap menjemput perban, ia maju dan melupa segala tatu.
dan
baginya tak ada pengorbanan yang rumpang.
—ia
cuma tahu bahwa kita mesti terus maju sepanjang sepi, sepanjang waktu
pada
jengah hati, pada belusuk kalbu.
segalanya
masih seperti nyala api:
1.
alangkah
ngeri perang, tajam mata memandang
2.
alangkah
tuli malam, wajah-wajah gentayangan
3.
pembunuhan
selalu sadis, seperti serigala
/makan
dan minum darah/
barangkali,
pada rontokan daun, Umar ingat kematian yang dekat.
pada
panggang matahari, ia bayangkan alangkah ngeri siksa ilahi.
berikutnya
ia berkekasih sedih .
tapi
tetap memilih terus memperjuangkan negeri di tanahnya sendiri.
sembari
menunggu namanya dipanggil: di Kampung Mugo.
3.
hati
Umar alangkah besi
taktik
Umar alangkah
seligi
o,
Umar. engkau tetaplah ramu. engkau tetaplah panasea.
engkau
tetap abadi di dada kami.
Lampung,
19 Maret 2022
TENTANG PENULIS
Wahyu
Hidayat, S.Pd. Penulis dari Lampung. Puisi-puisinya tayang di media
cetak/daring. Kerap diminta menjadi narasumber seminar kepenulisan nasional,
juri cipta/baca puisi nasional, motivator, dan pemateri bidang sastra. Sering
menjuarai lomba cipta/baca puisi nasional dan internasional. Menjadi mahasiswa
berprestasi peringkat 1 UMKO, Lampung 2020. Terpilih menjadi seniman seni
sastra dalam GSMS Lampung 2019, 2020, 2021. Menjadi aktor terbaik SM Kotabumi
2018. Ia merupakan guru di YPI Sabilul Mukminin, Wonogiri. Karya-karyanya yang
sudah dibukukan: Malaikat Tiap Detik
Mengintai Kita, Doa Maharahasia, Hujan Mengulur Pelangi, Ozlemli Olum, Mekhanai Pulang ke Peluk-Cium Ibu, dan Jika Kita Telah Bercakap Perihal Cincin. FB: Wahyu Hidayat. Wa:
088286562573.
Komentar
Posting Komentar